Saturday, May 31, 2014

PATUNG MEDITATIF BUDDHA CANDI BOROBUDUR

                  Pada pagar langkan Rupadhatu terdapat 432 buah patung Buddha yang letaknya didalam relung dan memiliki jenis yang sama: kepala tegak dengan karang rambut dan pada pusaran ada tumbuhan yang lebih tinggi dari ikal rambut itu. Pelupuk mata tertutup kebawah, muka berisi, telinga panjang, lipatan bahagia tiga leret di leher, urna di dahi, ditengah kedua alis dan akhirnya jubah pendeta disampirkan di bahu kiri.
                  Cara duduknya sama dan menunjukan kaki yang terlipat dibawah. Punggungnya tegak seluruhnya dan kepala diangkat menunjukan sikap yang penuh gaya untuk menguasai diri. Dibutuhkan untuk bersemadi. Patung meditatif Buddha ini juga disebut Buddha-dyana (dyana=semadi/tafakur).
Pada arupadhatu juga terdapat patung meditatif Buddha. Letaknya diatas lingkaran-lingkaran yang bertingkat tiga. Radius dari empat tingkatan-tingkatan bundar berturut-turut dari bawah panjanganya 25,60; 19,20; 13,40 dan 9 m. Lebar selasar pada tingkatan bundar 6,40; 5,80; 5,40 m. Pada selasar-selasar itu terdapat stupa berlubang, berturut-turut 32; 24 dan 16 buah. Didalam tiap-tiap stupa duduk patung Sang Buddha. Tinggi stupa berturut-turut: 1,90 ; 1,80 ; dan 1,70 m. Sama dengan radiusnya. Lubang stupa pada tingkat –tingkat bundar pertama dan kedua berbentuk bujur sangkar, sedang lubang stupa pada tingkat bundar ketiga berupa persegi empat.
   Pada sisi luar tingkatan-tingkatan bundar tidak ada kutamara, oleh karena itu selasar-selasarnya tidak merupakan lorong-lorong. Seperti trana bersisi patung Buddha, stupa berlubang berisi pula patung Buddha. Jadi patung Buddha terdapt dari tingkatan-tingkatan bawah sampai tingkatan-tingkatan atas.
                        Borobudur menganut aliran Buddha Mahayana. Dalam aliran tersebut, dikenal beberapa tingkatan Buddha, masing-masing dengan martabat, kedudukan dan tugasnya. Yang satu demi satu dapat dilihat pada mudranya. Macam-macam Budha itu antara lain:
1.      Adi Buddha menjadi pangkal segala Buddha, atau Buddha suci yang tertinggi martabatnya. Di Borobudur diperkirakan Buddha jenis ini terdapat di dalam garbha induk stupa, bumi yang kesepuluh dan yang paling suci.
2.      Dhyani Buddha. Dhyani Buddha yakni Buddha yang tafakur dalam alam baka dan memancarkan jiwanya dalam bentuk kenyataan di alam fana sebagai manusia Buddha. Tempatnya di Borobudur pada tiga deretan bhumi bundar didalam stupa-stupa yang berlubang-lubang dan pada deretan bhumi persegi empat bagian atas didalam torana-torana (relung).
3.      Bodhisatva Buddha. Diantara tingkatan-tingkatan Buddha ini ada Bodhisatav Buddha, yaitu Buddha yang menjaga keselamatan pelajaran agama Buddha dan menjaga keselamatan manusia. Boddhi atau Buddhi artinya keinsyafan, pikiran atau bangun. Sattwa artinya dzat (eksistence). Jadi Bodhisatva artinya dzat yang telah mendapatkan keinsyafan atautelah bangun, telah dianugrahi kebenaran. Buddha Bodisatva insyaf akan jalan hidup yang benar, yang berakhir pada nirwana. Bodhiwatva Buddha terdapat di Borobudur pada empat deretan persegi empat bagian bawah pada torana-torana.
Di zaman Borobudur, Bodhisatwanya disebut Lokesiwara, dan Dyani Buddhanya ialah Amithaba yang menguasai sorga bagian barat.
Perbedaannya terletak pada jenis posisi tangan. Jika dilihat dari possi tangannya terdapat 6 jenis. Posisi-posisi tangan ini disebut mudra
Mudra
1.      Patung-patung Buddha dengan tangan kanan diletakkan di lutut, telapak tangan terbuka kedalam (tertelungkup). Sikap tangan semacam itu namanya bhumisparsjamudra –menyentuh bumi- . Menggambarkan Dhyani Buddha Aksobhya, yaitu Buddha dari surga sebelah timur. Bodhisattwanya: Wadjrapani. Dhyani Buddha Aksobhya ada 92 buah didalam torana-torana sebelah timur kecuali pada deretan segi empat yang tertinggi.



2.      Patung-patung Buddha dengan tangan kanan diletakkan di lutut, telapak tangan terbuka keluar (terlentang). Sikap tangan semacam itu namanya waramudra-menganugrahkan. Mengggambarkan Dhyani Buddha Ratnasambawa ada 92 buah didalam torana-torana disebelah selatan, kecuali pada deretan segi empat yang tertinggi.


3.      Patung Buddha dengan tangan kanan dipangkuan, diatas tangan kiri, telapak tangan terbuka keluar (ditelentangkan). Sikap tangan semacam itu namanya dhyanamudra  –meditasi- dan menggambarkan Dhyani Buddha Amithaba ada 92 buah terdapat di torana-torana pada bhumi persegi empat di sebelah barat, kecuali dalam torana-torana pada deretan bhumi persegi empat yang tertinggi.


4.      Patung Buddha dengan tangan kanan diangkat sedikit diatas telapak kiri, telapak tangan terbuka menghadap ke muka, kelima jari rata. Sikap tangan semacam itu namanya abhayamudra –jangan takut-. Menggambarkan Dhyani Buddha Amoghasiddha. Bodhisattwanya wisiwapani. Dhyani Buddha Amoghasidda ada 92 buah dan mengisi torana-torana pada bhumi persegi empat disebelah utara, kecuali dalam torana-torana deretan bhumi persegi empat yang tertinggi.



Patung-patung Buddha tersebut diatas masing-masing 92 buah, menggambarkan Dhyani Buddha Aksobya dengan Bhumisparsjamudra; Dhyani-Buddha Ratnasambhawa dengan waramudra; Dhyani-Buddha Amithaba dengan dhyanamudra; Dhyani-Buddha Amoghasiddha dengan abhayamudra, mengisi torana-torana berhiaskan mutiara.

5.      Patung Buddha dengan tangan kanan diangkat sedikit diatas telapak kaki kiri, telapak tangan terbuka, ibu jari dan telunjuk rapat satu sama lain. Sikap tangan semacam itu namanya witarka mudra –witarka artinya berbicara dengan memberikan argumen-argumen. Menggambarkan Dhyani Buddha Wairocana. Bodhisatwanya bernama Samantabadra. Patung-patung Buddha jenis Wairojana jumlahnya 64 buah, menduduki torana-torana yang menghadap ke seluruh penjuru mata angin. Torana-torana terdapat pada bhumi persegi yang paling tinggi. Torana-torana itu dihias dengan dagoba-dagoba.


6.      Selain dari pada itu, masih ada lagi mudra yang keenam, yaitu kedua tangan diangkat sedikit kebawah dada. Telapak tangan kiri terbuka, jari manis tangan kanan diletakan pada jari manis tangan kiri. Sikap tangan semacam itu adalah Dharmacakramudra (Dharmacakraprawartanamudra) –menyampaikan pengajaran. Menggambarkan Dhyani Buddha Wajrasatwa. Type Buddha ini terdapat didalam stupa-stupa yang berlubang-lubang pada tiga bhumi bundar, dibagian atas candi. Semuanya ada 72 buah: 32 buah pada bhumi bundar pertama, 24 buah pada bhumi bundar kedua, dan 16 buah pada bhumi bundar ketiga.

Jumlah seluruh patung Buddha ada 504 buah: 368 buah pada empat bhumi persegi empat, 64 buah pada bhumi persegi empat yang tertinggi, 72 buah pada bagian atas. kalau patung Adi Buddha dapat diketemukan jumlah semuanya 505 buah. 

SEKELUMIT CANDI BOROBUDUR

Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah candi Ankor Wat di Kamboja dan pernah termasuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Diperkirakan dibangun pada masa dinasti Sanjaya oleh arsitek bernama Gunadharma. Merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah candi Angkor Wat di Kamboja yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia.
Berbentuk segi empat dengan panjang 123 m dan tingginya 42 m. Batu yang dipergunakan kurang lebih 55000 m3 (42000 m33 + 2750 m3 penutup kaki kesamping).
Belum pernah ada yang mengetahui secara pasti darimana nama Borobudur berasal. Ada beberapa versi mengenai asal usul nama candi ini. Versi pertama mengatakan bahwa nama Borobudur berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “bara” yang berarti “kompleks candi atau biara” dan “beduhur” yang berarti “tinggi/di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Versi kedua mengatakan bahwa nama Sejarah Candi Borobudur kemungkinan berasal dari kata “sambharabudhara” yang berarti “gunung yang lerengnya berteras-teras”. Versi ketiga yang ditafsirkan oleh Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari kata “bhoro” yang berarti “biara” atau “asrama” dan “budur” yang berarti “di atas”.
Pendapat Poerbotjoroko ini dikuatkan oleh Prof. Dr. W.F. Stutterheim yang berpendapat bahwa Bodorbudur berarti “biara di atas sebuah bukit”. Sedangkan, versi lainnya lagi yang dikemukakan oleh Prof. J.G. de Casparis berdasarkan prasati Karang Tengah, menyebutkan bahwa Borobudur berasal dari kata “bhumisambharabudhara” yang berarti “tempat pemujaan bagi arwah nenek moyang”.
            Berdasarkan prasasti Karang Tengah dan ditambah dengan prasasti Kahuluan, J.G. de Casparis dalam disertasinya tahun 1950 mengatakan bahwa Sejarah Candi Borobudur diperkirakan didirikan oleh Raja Samaratungga dari wangsa Sayilendra sekitar tahun Sangkala rasa sagara kstidhara atau tahun Caka 746 (824 Masehi) dan baru dapat diselesaikan oleh puterinya yang bernama Dyah Ayu Pramodhawardhani pada sekitar tahun 847 Masehi. Pembuatan candi ini menurut prasasti Klurak (784 M) dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya dan seorang pangeran dari Kashmir yang bernama Visvawarma.
Versi Lainnya menyebutkan bahwa candi borobudur merupakan salah satu obyek wisata yang terkenal di Indonesia  yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Maka dari itu disebut candi Borobudur.
Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Kahulunan (Pramudawardhani).Casparis memperkirakan bahwa Bhumi Sambhadra Bhudhara dalam bahasa sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur.
Letak candi ini diatas perbukitan yang terletak di Desa Borobudur, Mungkid, Magelang atau 40 km sebelah laut kota Yogyakarta. Sementara di sebelah timur terdapat Gunung Merapi dan Merbau, serta disebelah barat ada Gunumg Sindoro dan Gunung Sumbing. Di sebelah utaranya terdapat bukit Tidar, lebih dekat di sebelah selatan terdapat jajaran perbukitan Menoreh, serta candi ini terletak dekat pertemuan dua sungai yaitu Sungai Progo danSungai Elo di sebelah timur. Menurut legenda Jawa, daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan Jawa dan disanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan tanahnya.
Borobudur diperkirakan dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m (870 kaki) dari permukaan laut dan 15 m (49 kaki) di atas dasar danau purba yang telah mengering.  Pada 1931, seorang seniman dan pakar arsitektur Hindu Buddha, W.O.J. Nieuwenkamp, mengajukan teori bahwa Dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau, dan Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha. Seringkali teratai itu digenggam oleh Boddhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa. Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Budha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana (aliran Buddha yang kemudian menyebar ke Asia Timur). Tiga pelataran melingkar di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai. Akan tetapi teori Nieuwenkamp yang terdengar luar biasa dan fantastis ini banyak menuai bantahan dari para arkeolog. Pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau purba.
Sementara itu pakar geologi justru mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Sebuah penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, yang memperkuat gagasan Nieuwenkamp. Ketinggian permukaan danau purba ini naik-turun berubah-ubah dari waktu ke waktu, dan bukti menunjukkan bahwa dasar bukit dekat Borobudur pernah kembali terendam air dan menjadi tepian danau sekitar abad ke-13 dan ke-14. Aliran sungai dan aktivitas vulkanik diduga memiliki andil turut mengubah bentang alam dan topografi lingkungan sekitar Borobudur termasuk danaunya. Salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia adalah Gunung Merapi yang terletak cukup dekat dengan Borobudur dan telah aktif sejak masa Pleistosen. Pendapat-pendapat itulah yang menjadi alasan dugaan Borobudur dulunya didirikan diatas sebauh danau.
Dimensi denah candi Borobudur berukuran panjang 121,66 meter, lebar 121,38 meter, dan tiinggi 35,40 meter. Struktur bangunan berupa 9 teras berundak dengan stupa induk di puncak. Teknis Candi Borobudur terdiri dari lantai undag, selasar, lorong tk I s.d tk IV, teras I s.d III dan stupa Induk. Terbuat dari batu andesit tak kurang dari 2 juta balok atau setara dengan 50.000  m persegi. Berat keseluruhan candi mencapai 3,5 juta ton. Seperti umumnya bangunan candi, Bororbudur memiliki 3 bagian bangunan, yaitu kaki, badan dan atas.
Bagian bawah menjadi penyangga bagian atas. bagian bawah berupa kaki candi dan lima tingkatan tersusun diatasnya, makin keatas semakin kecil. Enam tingkatan ini bentuknya segi empat, masing-masing berukuran 110, 100, 87, 82, 69, dan 61 m. Pada tingkatan tingkatan segi empat ini ditempatkan bangunan-bangunan menonjol kesamping. Hingga menjadi berliku-liku dan bersudut 20. Bagian bangunan itu berupa pagar rendah dinamakan pagar langkan atau kumantra. Kumantra berhiaskan relief-relief pada dindingnya, torana-torana diatasnya, tangga-tangga dan gapura-gapura pada jalan-jalannya.
Kaki candi pada asalnya berukuran 110 m, dan di tengah-tengah tiap-tiap sisi ditempatkan tangga untuk naik keatas. Sisi luar kaki candi, yaitu profil kaki candi ditutup dengan  batu kesamping, sehingga panjangnya menjadi 123 m. Ditempat yang membelok 113 m dan merupaknan jalan keliling yang lebar. Lima tingkat Rupadhatu pada tiap tingkatnya didrikan kutamara sehingga menyekat-nyekat tingkat-tingkat keatas. Dinding kutamara bagian luar dihias dengan beraneka pajangan dan bagian dalam dihias dengan relief. Diatas kutamara dihias torana-torana dengan patung sang Buddha didalamnya. Torana-torana diatas dengan hiasan stupa dan torana-torana dibawah dihiaskan mutiara. Lengkung ambang torana dihiaskan dengan kalamakara. Tiap-tiap deretan deretan torana merupakan rangkaian atau karangan Buddha. Seluruhnya ada lima rangkaian Buddha.
Dengan adanya kutamara itu, maka tiap-tiap tingkat terdapat ruang diantara kutamara dan sisi tingkat yang diatasnya. Ruang itu dikanan kiri dibatasi oleh tingkatan yang ada diatasnya dan kutamara, sehingga merupakan lorong yang sempit tetapi cukup lebar untuk berjalan. Sebenarnya ada lima lorong. Akan tetapi tingkat persegi empat yang terakhir sisi luarnya masih persegi dan memakai kutamara, mengikuti bentuk-bentuk dibawahnya, akan tetapi sisi dalamnya sudah mengikuti bentuk bundardari tingatan-tingkatan bundar diatasnya tanpa kutamara. Ruang atau selasar diantara kutamara dan sisi tingkatan bundar itu tidak lagi merupakan lorong. Karena hanya diatasi dengan dinding tinggi pada sisi luarnya. Tapi tidak lagi pada sisi dalamnya. Selasar ini hilang sifatnya sebagai lorong. Oleh karena itu hanya ada empat lorong dan tingkatan segi empat yang tertinggi. Ini merupakan tingkat peralihan, yaitu peralihan dari tingkat-tingkat segi empat ke tingkat-tingkat bundar.
Empat lorong tersebut adalah di jalan keliling untuk mengadakan prosesi atau upacara. Berjalan keliling dimulai dari tangga utama disebelah timur dan selalu mempradaksina, yaitu selalu menganankan candi.
Ia tidak memiliki ruang untuk dimasuki. Cara orang menjelajahinya adalah dengan menyusuri sepanjang selasarnya searah jarum jam. Borobudur adalah susuran batuan yang dibentuk candi dan diletakkan diatas sebuah bukit. Menurut pembagian yang berdasarkan pandangan kejiwaan atau alam pikiran Hindu Kuna, terdiri dari tiga tingkatan. Dari mulai paling bawah disebut Kamadhatu, Rupadhatu, kemudian Arupadhatu.  Konstruksinya adalah sebagai berikut:
 
Bangunan kaki disebut Kamadhatu atau “Kamawacara”, yaitu kwansius: daerah keinginan hawa nafsu yang menceritakan tentang kesadaran yang dipenuhi dengan hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatangan. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian kaki asli yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga. Secara filosofi, bagian Karmawibhangga sengaja ditupi sebagai simbol dari Buddha yang berhasil mencapai sebuah kesadaran dan berusaha untuk menutupi ‘nafsu rendah’ yang digambarkan dalam relief-relief Karmawibhangga. Sekarang sebagian kecil struktur tambahan di sudut tenggara disisihkan sehingga orang masih dapat melihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik.
Kemudian Ruphadatu atau “Rupawacara”, yang bermakna sebuah tingkatan kesadaran manusia yang  masih terikat hawa nafsu, materi dan bentuk. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Pintu tangga yang terbawah dengan 4 anak tangga dihiasi oleh Kalamakara, tangga kedua dengan 5 anak tangga dihiasi oleh kalaberikal, pintu tangga yang ketiga merupakan bagian atas dari pintu penutup kai candi kesamping yang merupakan selasar (jalan keliling) yang agak lebar. Dari selasar ini kita lihat relief dilukiskan pada bidang-bidang sekeliling candi. Bidang ini ada dibawah pagar langkan pertama bagian terluar. Bagian atas pagar langkan dihias dengan torana-torana. Bidang-bidang relief fiatas itu ada diatas relief kharmawibangga yang juga tertutup oleh batu kesamping

Aruphadatu yang tak lagi terikat hawa nafsu, materi dan bentuk digambarkan dalam bentuk stupa induk yang kosong. Hal ini hanya dapat dicapai dengan keinginan dan kekosongan. Bagian ini merupakan inti dari seluruh bangunan suci. Bagian atas ini terdiri dari empat bagian: medhi kesatu , yaitu tingkat bundar pertama, medhi kedua yaitu tingkat bundar kedua, dan medhi tiga, yaitu tingkat bundar ketiga. Anda yaitu tingkat bundar keempat dengan stupa induk berupa bola atau genta raksasa. Didalam stupa besar itu terdapat rongga yang dinamakan garbha. Garbha artinya perut. Pada bagian itu dapat dilihat pada irisan bangunan itu. Rongga itu tempat menyimpan harta, mungkin benda yang paling suci dari seluruh bangunan. Belum dapat dipastikan benda apa yang sebenarnya pernah disimpan didalam tempat penyimpanan relik itu. Mungkin patung sang Buddha dari emas, atau setidak-tidaknya berlapis emas.  Ada satu bagian lagi yang menempati posisi paling bawah yaitu Karmawibanggha. Pada bagian ini tidak terdapat patung meditatif Buddha, hanya terdapat relief-relief yang menggambarkan adegan-adegan yang tidak bermartabat, kehidupan masyarakat yang masih dipenuhi hawa nafsu dan belum mencapai  kesadaran.

Isi Cerita Relief-Relief Lorong Pertama Rupadhatu Sebelah Bawah

Pangeran Sudhadan dan Bidadari Surga Manohara.
Relief no 1 sedangkan kemakmuran dan ketentraman terdapat di Pancala Utara
Relief no 2 raja melihat banyak rimba dan desa dalam perjalanannya.
Relief no 3 sebab-sebab dari perbedaan itu terletak terutama dengan adanya raja ular (naga) yang memberikan hujan, yang diam didalam telaga lotus didalam batas pancala Utara. Oleh karena itu raja Panjala Selatan memerintahkan supaya tukang gendam ular menunjuk ular itu pidah kenegerinya.
          Tukang gendang itu pergi ke utara, setelah datang disana mengadakan upacara api, akan tetapi ia dibunuh oeh pemburu, jadi naga tetap diam di Panjala utara.
Relief no 4 kemudia pemburu menerima dari orang tua Naga hadiah berupa harta benda, yang tidak sedikit jumlahnya dan sebuah jerat pemburu yang tak pernah luput.
Relief no 5 dengan riangnya, karena menerima alat perburuan yang amat elok itu, ia pergi untuk menangkap buruan. Yang pertama-tma ia tangkap adalah bidadari kedewaan yang sama-sama dengan teman-temannya, bercengkrama di telaga dekat pertapaan yang telah tua.
Relief no 6 tidak tahu yang harus diperbuatnya dengan bidadari kedewaan yang ternyata bernama Manohara –ia memberikan bidadari itu kepada pangeran pati , Sudhana namanya, yang sedang berburu didekatnya. Sudhana jatuh cinta kepada bidadari itu dan mau mengawininya.
Relief no 7 dalam pada itu datanglah berita kepada raja bahwa disalah satu tempat dalam kerajaannya timbul huru hara. Menuruti nasihat pendeta keraton, yang mempunyai maksud yang busuk terhadap pengeran pati, raja mengirimkan puteranya yang keempat yang berbahaya itu, untuk menumpas huruhara.
Relief no 8 pangeran muda itu menerima tugas yang terhormat, tetapi berat itu. Ia pergi dengan istrinya yang muda remaja itu ke kepuntren (tempt tinggal puteri-puteri) dan menyerahkan istrinya itu dalam penjagaan ibunya.
Relief no 9 pangeran muda itu berangkat dengan balatentaranya, dengan sekonyong-konyong ia berjumpa ditengah hutan dengan segerombolan setan yang tidak disangka-sangka memberi pertolongan kepadanya.
Relief no 10 dalam pada itu, ketika Suladhana menumpas pemberontak, raja bermimpi yang disalahtafsirkan oleh pendeta kraton, yaitu bahwa kerajaan ada dalam bahaya besar dan hanya dapat diselesaikan dengan memberikan kurban berupa bidadari kedewaan hidup-hidup, dengan jalan ini ia mengharap akan menghantam Sudhana, setelah usahanya yang pertama itu gagal.
Relief no 11 Mati terkejut karena teranjam jiwanya itu, maka karena pertolongan ibu Sudhana, Manohara diam-diam melarikan diri dari istana dengan melayang-layang diangkasa menuju ke rumah ayahnya, Druma, raja dari segala bidadari-bidadari.
Relief no 12 Dalam pada itu, Sudhana telah kembali dengan mebawa harta benda sumbangan dan upeti yang dipersembahkan oleh pemberontak-pemberontak kepadanya.
Relief no 13 Akan tetapi dari pada kegembiraan, yang didapati bahkan hanya kesedihan belaka, karena hilangnya istrinya itu. Ibunya memberikan lagi petunjuk-petunjuk kepadanya, dan memberitahukan kepadanya perkembangan hal ihwal semuanya.
Relief no 14 Dinegeri bidadari. Manohara pada waktu itu telah sampai di istana tempat tinggal ayahnya dan menceritakan segala apa yang dialaminya sehingga sangat menimbulkan kemarahan ayahnya.
Relief no 15 Sudhana tidak kehilangan akal dan segera berangkat mencari istrinya dengan pertama-tama minta bicara dengan petapa, tempat istrinya ditangkap dekat petapaannya. Orangtua itu memperlihatkan kepadanya sebuah cincin, yang dipakaikan kepadanya dan ternyata dapat menunjukan jalan dimana Manohara berada.
Relief no 16 segera Sudhana tiba di istana Druma. Beberapa pelayan perempuan sedang menimba air untuk mandi Manohara. Dengan menjatuhkan cincin dalam salah satu dari tempat air itu, ia dengan secara diam-diam memberi tahu kepada istrinya akan kedatangannya disitu.
Relief no 18 Sudharma memperhatikan dan memberikan ini dalam perlombaan memanah dan bisa menunjuk dengan segera Manohara diantara banyak bidadari-bidadari yang dalam segala-galanya sama.
Relief no 19 pertemuan kembali kedua asyik masyuk diramaikan dengan tarian-tarian.
Relief no 20 dan mereka kembali kerumah mereka dan oleh karena terimakasihnya mereka ingin bberlatih baik budi dan sebanyak-banyak bermurah hati.
Relief no 21-30 tidak diterangkan.
Relief no 31-32 dengan cara yang tiadak ada bandingannya seorang raja melatih diri tentang sifat utama, bermurah hati.
Relief no 33 akan tetapi tidak semata-mata untuk memperoleh kebahagiaan jiwanya, melainkan untuk memaksa dewa-dewa supaya memberikan kepadanya seorang anak laki-laki.
 Relief no 34 dalam hal ini dia berhasil karena tidak lama setelah itu dalam pengembaraannya didalam hutan sedang ia sangat dahaga didekat pertapaan seorang petapa, ia minum habis kurban air suci untuk bisa mengandung.
Relief no 35 ia endapat seorang anak laki-laki yang sehat dan lekas menjadi besar. Diberi nama Mandhatar (anak itu berdiri diantara raja dan permaisuri).
Relief no 36 Mandhatar ternyata ditakdirkan untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan besar dan teristimewa mempunyai watak, bahwa semua keinginannya harus selalu dipenuhi seperti apa yang telah dikatakan oleh seorang brahmana.
Relief no 37 untuk perkabaran itu raja memberikan kepada brahmana banyak hadiah.
Relief no 38 dan bahwa apa yang dikatakan oleh juru nujum itu benar, ternyata dengan datangnya dewa Indra sendiri.
Relief no 39 kemudian pangeran yang sehat itu setelah anaknya meninggal, kemudian dinobatkan menjadi raja.
Relief no 40 dengan segera mendapat bukti-bukti yang mengatakan akan kesungguhan perkataan juru nujum itu; petapa-petapa berhati jahat mengutuki burung-burung bangau, binatang-binatang itu lumpuh tidak bisa terbang. Burung-burung itu terbang tinggi ketika raja menghendaki supaya mereka itu pergi.
Relief no 41 atas kehendaknya, raja menurunkan padi dari langit yang segera lekas-lekas disimpan.
Relief no 42 menurunkan kain dan selendang dari surga.
Relief no 43 akhirnya ia menghujani dari mega-mega kalung mutiara dan permata lainnya diatas orang-orang hamba istananya.
Relief no 44 yakin sekali, akan kejayaan gaibnya itu, ia naik ke udara untuk menaklukan dunia.
Relief no 45 dan beristirahat sejenak hanya untuk bertanjakan adakah yang masih ada untuk ditaklukkan.
Relief no 46 kemenangan yang diperoleh itu sebegitu hebatnya, sehingga akhirnya ia duduk sejajar dengan indra pada suatu singgasana, dan berunding dengan dewa-dewa yang akan ia beri pertolongan.
Relief no 47 pertolongan itu ia berikan, dan ia mengalahkan pasukan raksasa yang menyerang sorga.
Relief no 48 akan tetapi keangkuhan akhirnya jatuh –ketika seorang dari pengikut-pengikutnya memperingatkan kepadanya, bahwa bukannya dewa-dewa, akan tetapi hanya dia, Mandhatar, yang mendapat kemenagan.
Relief no 49 ia meminta kekuasaan dewa Indra, akan tetapi sama sekali ia kehilangan perlindungan dewa itu –Indra berbalik membenci keangkuhan seorang penghuni marcapada.
Reliaf no 50-55 tidak diceritakan.
Raja yang belas kasihan
Relief no 56 raja dari kaum Sjibi pada suatu hari duduk didalam istananya, datanglah terbang seekor burung dara duduk di belakang diatas singgasananya. Ternyata burung dara mencari perlindungan dari burung rajawali, yang hinggap padaa pohon. Berdasarkan atas laparnya yang sangat pedih itu ia menuntut kembali mangsanya dan raja harus menentukan pilihannya yang sukar, memilih belas kasihannya terhadap kedua binatang itu. Akhirnya persoalan itu diselesaikan dengan membarikan daging dari badannya sendiri kepada rajawali, seberat burung dara itu.
Relief no 57 ia sangat dipuji karena putusannya itu.
Raja yang tabah
Relief no 58 seorang raja pada suatu kali minta kepada brahmana yang dikerahkannya, supaya memberikan pelajaran yang sebenarnya.;
Relief no 59 kemudian Indra menyamar sebagai setan menyatakan bersedia meluluskan permintaan itu, kalau raja sesungguhnya itu suka bibakar.
Relief no 60 setelah terbukti bahwa raja itu tetap tabah dan sama sekali tidak takut, Indra malih dalam bentuknya yang semula dan menghormati raja itu.
Relief no 61-63 tidak diterangkan.
 Raja Rudayana dan putranya Sjikandin.
Relief no 64 dalam kerajaan Roruka memerintah raja Rudrayana yang mendengar dari pedagang-pedagang dari Magadha tentang Bimbisara dari Rajagraha yang sangat mahsyur sebagai pelindung agama Buddha.
Relief no 65 Raja itu bermaksud hendak mengirimkan surat pernyataan kekaguman kepada raja yang mahsyur itu.
Relief no 66 surat itu dijawab dengan mengirimkan bingkisan-bingkisan berupa lauk pauk yang sangat mahal.
Relief no 67 Sekali lagi datanglah utusan-utusan dan Roruka ke Magadha, kali ini dengan peti berisi permata.
Relief no 68 dibalasnya dengan pakaian yang sangat berharga.
Relief no 69 akhirnya Rudayana mengirimkan baju zirah yang jarang didapat, terhias dengan permata.
Relief no 70 bagi Bimbisara tidak ada yang lebih baik dari pada mengirimkan potret sang Buddha, digulung dan diantarkan diatas kendaraan gajah.
Relief no 71 karena sangat ingin tahu akan arti dan ajaran dari orang-orang yag digambar itu,
Relef no 72 raja meminta penjelasan kepada pertapa bernama Mahakatyayana.
Relief no 73 sedangkan seorang nin memberikan ajaran-ajaran agama Buddha dalam kepuntren.
Relief no 74 keduanya berhasil: permaisuri sebelum meninggal menjadi non agama Buddha.
Relief no 75 dan memberikan keputusannya untuk turun tahta enjadi seorang petapa.
Relief no 77 demikianlah telah berlaku dan keyakinan itu sangat teguh, hingga segala bujukan-bujukan dari raja Bimbisara yang menemuinya di Rajagraha tidak menggoncangkan keyakinan itu.
Relief no 78 sementara itu, raja yang telah menjadi petapa itu mendengar berita , bahwa anak nya yang menjadi raja itu tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai raja dengan semestinya dan ia ingin campur  tangan; (disisi kanan) raja menghalangi terlaksananya maksud itu dengan memberikan perintah membunuh raja (ditengah).
Relief no 79 tatkala mendengar bahwa perintah itu telah dilaksanakan (disisi kanan) , ia merasa menyesal membunuh ayah dan orang suci selalu mengganggu perasaannya. Maka ia pergi kepada ibunya minta nasihat (kiri); ia menghiburnya dengan mengatakan bahwa yang dibunuh itu bukan ayahnya.
Relief no 80 kesuciannya itupun sangat disangikan benar, karena beberapa orang istana mengeluarkan kucing dari stupa suci dan disuruh menjalankan upacara suci, jadi semuanya itu menunjukan, bahwa panghormatan kepada para suci tiu hanya penipuan kotor semata-mata.
Relief no 81 maka raja itu sangat marah kepada pendeta yang memberitahukan kepada ayahnya dan ia memerintahkan supaya petapa itu ditanam hidup-hidup; dua pegawai kraton baik budi melepaskan pertapa dari pekuburannya dan petapa memberitahukan kepada mereka itu bahwa kota akan segera ditimbun dnegan pasir.
Relief no 82 untuk membuktikan kesaktiannya pertapa menghujankan perhiasan emas, dan dengan perhiasan itu pegawai-pegawai keraton belajar ketampat yang aman untuk menyelamatkan diri.
Relief no 83 petapa itu dnegan temannya beserta dengan dewi kota berangkat melalui angkasa meninggalkan kota yang rusak itu, dewi kota tinggal di Khara, dimana diatas piring kayu pengemisan pertapa itu didirikan stupa.
Relief no 84 teman sejawat pertapa menjadi raja di Lambaka.
Relief no 85 stupa yang kedua didirikan diatas tongkat pertapa di Wokkana.
Relief no 86-88 kedua pegawai kraton masing-masing mendirikan kota;
Relief no 88 dan akhirnya pertapa dengan selamat kembali diwihara Syiraswasti.
Kinara-kinara.
Relief no 89 seorang raja pada suatu kali didalam perburuannya dihutan rimba mendengar suara tangis.
Relief no 90 sesudahnya diselidiki, ternyata suara itu datangnya dari sepasang kinara; mereka itu menangis karena dalam seribu tahun hidup bersama 697 tahun yang lalu, selama satu malam mereka itu terpaksa terpisah.
Relief no 91-105 tidak diterangkan.
Meitrakanyakan dan ibunya.
Relief no 106 Anak laki-laki seorang padagang bernama Maitrakanyaka, yang tidak tahu bahwa ayahnya adalah seorang pedagang berlajar; ibunya tidak pernah memberi tahukannya, karena sangat takut akan kehilangan anaknya itu. Tatkala ia sebagai tukang warung dan pedagang wewangian (seperti yang disangkanya itulah pekerjaan yahnya juga) ia mendapat laba berturut-turut empat dan delapan uang emas, ia memberikan uang itu kepada ibunya untuk dibelanjakan.
Relief no 107 dan begitu pula dengan enambelas dan tiga puluh dua uang emas –setelah ia mendengar bahwa itupun pekerjaan ayahnya juga (kanan).
Relief no 108 kemudian, ketika ia mendengar bahwa ayahnya itu adalah seorang berlajar dan ibunya menelungkupi kakinya dan minta dengan sangat-sangat untuk tinggal dirumah pula, ia menjadi kesal hatinya dan menendang ibunya (kiri).

Relief no 113-120 tidak dijelaskan.